Tonton videonya di sini:
Latar Belakang




Sesaat setelah berita keluar jam 14.43 harga saham WIFI, INET, PADA terbang di waktu yang bersamaan. Bahkan PADA dan INET berakhir ARA. Sepertinya ada asumsi yang beredar kalau entitas baru bikinan Indosat + Northstar + Arsari Group itu akan di backdoor ke antara saham-saham tsb




Ada indikasi backdoor listing ke saham Tbk yang statusnya adalah “yang akan ditentukan kemudian” (Poin b)
Pertanyaan: Perusahaan Tbk yang mana?
Calon Buyer



Calon Seller? (Belum pasti)


Cek langsung beritanya ke sini:
Yang Menarik dari Transaksi Sejenis (MORA)


MORA di jual ke Grup Sinarmas di harga Rp432/lembar lalu di merger dengan PT Eka Mas Republik (MyRepublic)

Harga MORA saat ini? Rp9.800! Naik 2.168% dari harga akuisisi. Crazy.


Pemilik saham MORA sebelum harganya lompat signifikan adalah PT XLSMART TELECOM SEJAHTERA TBK yan tidak lain tidak bukan adalah…

Pemilik saham LINK sebesar 19.22% saat ini 🫡
Sekarang kita cari apakah LINK memang pantas untuk jadi calon “backdoorlisting” transaksi ini?
Apakah LINK the missing link?












Jadi berapa valuasi FiberCo? 32 Triliun kah? (14,5 : 45%)
Berita yang ditulis dengan baik



Laporan Keuangan LINK Q3 2025
Balance Sheet / Neraca





Utang Jangka Panjang “dihabiskan”, LINK udah gak punya waktu lebih dari 1 tahun lagi untuk bayar utang. Karena mau di beli pihak lain?




Dengan posisi utang jangka pendek ada 6,89 triliun, LINK gak akan bisa bayar. Arus kas gak mencukupi, jual aset? Aset apa yang bisa di jual? Hipotesis gue adalah perusahaan LINK akan diakusisi dan Bank menginginkan utang mereka harus selesai dibayar sebelum investor baru masuk. Pihak pengakuisisi juga mungkin gak mau dealing dengan utang jangka panjang LINK yang biasanya syaratnya banyak, jadi ini langkah yang menarik! Di sisi yang lain, LINK jadi gak punya daya tawar. Karena kalau deal gak terjadi, LINK bisa default alias gagal bayar. Jadi seakan lagi bilang “Beli gue dong… Kalau nggak bisa modarrr gue”
Upaya LINK agar punya daya tawar



Link dapat utang dari International Finance Corporation (IFC) dan Asian Development Bank (ADB) dengan nilai total 5,81 triliun rupiah, tujuannya untuk refinancing (gali lobang tutup lobang) dan modal usaha (untuk ekspansi Fiber Optic lagi dsb). Sehingga “napas” LINK bisa lebih panjang dan jadi gak bergantung amat sama “akuisisi”, LINK jadi punya daya tawar, bisa ajukan harga yang lebih premium untuk calon pembeli! Catatan: Untuk bisa dapat utang dari IFC dan ADB syaratnya seringkali lebih sulit, singkatnya perusahaan harus punya lapkeu yang bagus + taat ESG (Environmental, Social, and Governance) jadi lolosnya pinjaman yang besar dari Bank Dunia ini bisa mengindikasikan perusahaan dijalankan dengan tata kelola yang baik.
Laporan Laba Rugi


Yang menarik: Segmen residensial di 2025 udah Rp0 tapi ada tambahan pendapatan baru dari sewa jaringan dan TV Kabel. Why?

Laporan Arus Kas


📜Saham Treasury LINK
WIFI x LINK





- Anchor Tenant = Penyewa Utama | LINK pasti mau jaringan fiber optic mereka “laku”, sehingga dia cari penyewa utama yang punya program jangka panjang yang bisa pakai jaringan mereka. Saat ini kan lagi ada program Internet Rakyat. Fiber Optic yang dimiliki LINK / FiberCo akan sangat berguna untuk WIFI. Jadi kabelnya gak nganggur deh~
- Strategic Partnerships + Open Access = LINK terbuka untuk kerja sama selama itu meningkatkan rate penggunaan kabel fiber optic mereka
Valuasi LINK per 25 Desember 2025

Dengan bayar 10,6 triliun kita bisa dapat apa?
- Fiber Optic sepanjang 30.883 km
- Home passed 4,5 jt (public expose 9 Desember 2025)
- Utang bank jangka pendek 6,89 triliun + utang bank dunia 5,81 triliun = 12,7 triliun
- Perusahaan yang fokus untuk B2B (FiberCo)
Katalis
- Akuisisi LINK oleh WIFI
- Merger aset dengan ISAT (Lintasarta), Ainfrastruktur Indonesia Raya, Northstar dengan FiberCo —> FiberCo Raya
Asumsi
- Transaksi terjadi di bawah 1 tahun
Risiko
- FiberCo nama yang sangat generik
- LINK bukan perusahaan target
- LINK tidak terlalu likuid (untuk ukuran 10T)
Kesimpulan

Mempertimbangkan kondisi LINK saat ini gue pikir publik salah sasaran. LINK mungkin jadi tempat backdoorlisting perusahaan buatan Indosat + Northstar + Arsari Group itu.
Mungkin kita bisa alokasikan 10% Portofolio Palsu untuk berspekulasi ke LINK
Beberapa link yang bisa dibaca:
👆👆Rangkuman menarik tentang FiberCo dari NotebookLM, sumber dari Annual Report LINK 2024
Lain-lain

FiberCo Raya tebakan gue sih FiberCo punya LINK + PT Ainfrastruktur Indonesia Raya = FiberCo Raya

Shareholder LINK hari ini

Shareholder MORA hari ini
LINK udah mulai buka akses Fiber Optic-nya ke pihak ketiga (open source)
Melalui kemitraan ini, Linknet berperan dalam menyediakan hingga menyewakan infrastruktur jaringan yang dimiliki dan dikelola kepada Nexa mencakup jaringan backbone, feeder, dan last mile berbasis teknologi Gigabit-capable Passive Optical Network (GPON). Komponen infrastruktur tersebut meliputi perangkat aktif seperti Optical Line Terminal (OLT), serta perangkat pasif seperti Optical Distribution Cabinet (ODC), Fiber Distribution Terminal (FDT), Fiber Access Terminal (FAT), dan perangkat Customer Premises Equipment (CPE) seperti Optical Network Terminal (ONT), set-top box (STB), hingga kabel instalasi ke rumah pelanggan.


Biaya untuk develop 1 Home passed LINK

Penjualan Saham LINK oleh KI (Belum tentu tresuri)



KI terlihat gak bisa jualan di bawah harga Rp3,718

Beda dengan 22 Des-19 Jan, KI jualan 23rb lot dengan rerata harga Rp3,831





























