PGEO - Pertamina Geothermal Energy (70%)
🏭

PGEO - Pertamina Geothermal Energy (70%)

🔒 Khusus member · Tonton di YouTube
Tonton videonya di sini!
PGEO IPO tanggal 24 Februari 2023 dengan harga Rp875, hari ini 10 Juni 2026 harganya lebih rendah daripada saat IPO. Bagaimana dengan kinerjanya?
PGEO IPO tanggal 24 Februari 2023 dengan harga Rp875, hari ini 10 Juni 2026 harganya lebih rendah daripada saat IPO. Bagaimana dengan kinerjanya?

PGEO punya bisnis seperti apa?

PGEO (PT Pertamina Geothermal Energy) adalah perusahaan energi panas bumi: mereka mengebor sumur, mengambil uap dari dalam bumi, lalu uap itu digunakan untuk memutar turbin dan menghasilkan listrik. Pembeli tunggalnya adalah PLN (offtaker monopoli). Model bisnisnya mirip tol: sekali infrastruktur dibangun, pendapatan relatif stabil karena didukung kontrak jangka panjang.

image

Secara fisik di lapangan, penampakan bisnis mereka sangat berbeda dengan PLTU batu bara yang identik dengan asap hitam pekat atau gunungan batu bara. Area operasional PGEO biasanya punya karakteristik seperti ini:

  • Berada di Pegunungan atau Dekat Gunung Berapi: Karena sumber panas buminya ada di dalam perut bumi aktif, lokasinya pasti di dataran tinggi yang asri dan hijau (seperti di Kamojang, Ulubelu, atau Lahendong).
  • Pipa-Pipa Raksasa (Steam Above-Ground System): Lo bakal melihat jaringan pipa besi berukuran besar yang meliuk-liuk membelah perbukitan. Pipa ini fungsinya mengalirkan uap panas bertekanan tinggi dari sumur pengeboran langsung menuju turbin pembangkit.
  • Uap Putih Bersih: Menara pendingin (cooling tower) mereka mengeluarkan uap air berwarna putih tebal. Ini murni uap air (bukan asap hasil pembakaran karbon), jadi tidak berbau gosong atau membuat polusi udara di sekitarnya.
  • Kepala Sumur (Wellhead): Di beberapa titik, ada area sterilisasi berisi katup-katup pipa raksasa yang tertancap ke dalam tanah untuk menyedot uap dari kedalaman ribuan meter.

Intinya, operasional mereka itu terlihat seperti pabrik teknologi tinggi di tengah-tengah hutan atau pegunungan yang hijau.

Kinerja PGEO di pecah per segmen geografis. Perhatikan
Kinerja PGEO di pecah per segmen geografis. Perhatikan GPM, OPM dan NPM yang sangat tinggi ini. Bukti kalau perusahaan ini memiliki keunggulan yaitu produk atau jasanya yang tidak mudah direplikasi oleh sembarang orang! (Siapa juga kan yang mau bangun begituan di atas gunung)

Riwayat IPO PGEO

image
Dana IPO dapat 9 triliun
Dana IPO dapat 9 triliun

Penggunaan Dana IPO

  • ~85% CapEx (ekspansi sampai 2025):
    • ~55% tambah kapasitas di aset eksisting (Ulubelu, Lumut Balai 2, Hululais, Kotamobagu, Sungai Penuh)
    • ~33% digitalisasi & optimasi fasilitas (Kamojang, Karaha, Lahendong, Sibayak, Dieng)
    • ~12% eksplorasi/pengembangan WKP baru (Seulawah, Mataloko)
  • ~15% pelunasan utang: bayar sisa fasilitas pinjaman ke Mandiri Trade Finance Limited.

Realisasi Penggunaan Dana IPO (Per 31 Des 2025)

Pos Penggunaan Dana
Rencana Prospektus
Realisasi Riil
Sisa Dana
Status / Progres
A. Pelunasan Sebagian Utang (Facilities Agreement)
Rp1,53 Triliun
Rp1,53 Triliun
Rp0
Selesai 100%
B. CapEx Digitalisasi & Manajemen Reservoir
Rp869,1 Miliar
Rp869,1 Miliar
Rp2,5 Juta
Selesai 100%
C. CapEx Ekspansi WKP Eksisting (Client Lama)
Rp3,98 Triliun
Rp2,59 Triliun
Rp1,38 Triliun
Berjalan (Sisa 34,7%)
D. CapEx Ekspansi WKP Baru (Pasar Baru)
Rp2,39 Triliun
Rp37,4 Miliar
Rp2,35 Triliun
Tahap Awal (Baru 1,5%)
Total Hasil Bersih (Net)
Rp8,77 Triliun
Rp5,03 Triliun
Rp3,73 Triliun
Terserap 57,4%

Note: Sisa dana sebesar Rp3,73 Triliun saat ini ditempatkan di Bank Mandiri (Afiliasi) dengan tingkat bunga 4,31% per triwulan.

Struktur Kepemilikan Saham Setelah IPO

Setelah melepas 25,00% saham baru ke masyarakat, peta pengendali dan porsi kepemilikan saham PGE berubah menjadi seperti ini:

Nama Pemegang Saham
Jumlah Saham (Lembar)
Persentase Kepemilikan
Status / Keterangan
PT Pertamina Power Indonesia (PPI)
30.624.000.000
74,00%
Pengendali Utama (Sub-holding New & Renewable Energy Pertamina)
PT Pertamina Pede Ventures
1.000.000
0,00% (Sangat kecil, pemegang saham pelengkap)
Afiliasi Grup Pertamina
Masyarakat (Publik)
10.350.000.000
25,00%
Saham yang beredar di bursa (Free Float)
Total Modal Ditempatkan & Disetor
41.395.000.000
100,00%

Struktur Kepemilikan Saham >1% Per 4 Juni

Saham yang dikuasai oleh kelompok non-publik (pengendali dan investor strategis) mencapai 93,85%. Yang tadinya dilepas 25% ke “Masyarakat/publik” ternyata per 4 Juni 2026 tinggal 6,15%. Masdar (Perusahaan EBT asal Arab) ikut masuk saat PGEO IPO
Saham yang dikuasai oleh kelompok non-publik (pengendali dan investor strategis) mencapai 93,85%. Yang tadinya dilepas 25% ke “Masyarakat/publik” ternyata per 4 Juni 2026 tinggal 6,15%. Masdar (Perusahaan EBT asal Arab) ikut masuk saat PGEO IPO

Kinerja PGEO saat rilis prospektus

Perhatikan: Pendapatan yang drop dari 2019 ke 2020 namun laba bruto tidak turun signifikan; beban keuangannya yang terus turun
Perhatikan: Pendapatan yang drop dari 2019 ke 2020 namun laba bruto tidak turun signifikan; beban keuangannya yang terus turun

Penurunan revenue 2019→2020 (666.876 → 353.961) terutama karena perubahan akuntansi (gross → net), bukan karena bisnis PGE bermasalah. Penyebab utamanya:

  1. KOB/JOC (Kontrak Operasi Bersama / Joint Operation Contract) dicatat net (mulai 2020): Pendapatan dari sebagian WKP (Wilayah Kerja Panas Bumi) yang dikelola bareng mitra lewat KOB/JOC dulu dicatat gross (angka penuh). Sejak 2020, setelah renegosiasi & penyesuaian akuntansi, pendapatannya dicatat net (angka bersih) — setelah dikurangi porsi mitra/kontraktor/pemerintah (contoh: Darajat, Salak, Wayang Windu).
  2. Segmen Lain di 2019 ada 338 juta dolar dan buaya langsung lainnya 339 juta dolar (habis deh)
    Segmen Lain di 2019 ada 338 juta dolar dan buaya langsung lainnya 339 juta dolar (habis deh)
    Di tahun 2020 Segmen Lain sudah menghilang
    Di tahun 2020 Segmen Lain sudah menghilang

    Karena yang dimasukkan ke dalam kolom Pendapatan Usaha hanya porsi bersihnya saja, maka secara otomatis angka total revenue di atas kertas terlihat merosot tajam, padahal secara volume produksi riil di lapangan tidak ada penurunan sedrastis itu.

  3. COVID-19: permintaan listrik turun saat pandemi → PLN menahan serapan dari pembangkit, termasuk panas bumi.

Laba tetap aman karena saat pencatatan berubah ke net, beban yang sebelumnya “menempel” di pendapatan kotor ikut keluar; makanya BPP (Beban Pokok Pendapatan) ikut turun (486.093 → 164.194).

💪🏻
Insight: jangan nilai perusahaan cuma dari revenue; cek catatan kaki supaya paham apakah turun karena bisnis melemah atau cuma perubahan cara pencatatan.

PGEO vs POWR (”Sama” tapi beda)

image

Kenapa PGEO dapat premium valuasi lebih tinggi?

  1. Margin & kualitas laba lebih stabil: “fuel” panas bumi nyaris gratis setelah sumur jadi → cost lebih rendah dan margin lebih tebal/lebih predictable dibanding POWR yang tergantung harga gas/batubara.
  2. Growth story lebih kuat: target kapasitas PGEO masih ekspansif (pipeline besar), sedangkan POWR cenderung aset matang, belum ada kebutuhan tambah kapasitas juga sehingga pertumbuhan pendapatan minim (alias tergantung permintaan).
  3. ESG demand lebih besar: profil hijau PGEO lebih mudah masuk mandat fund ESG, aliran dana passive fund mungkin berguna; POWR (gas+batubara) lebih sering ter-screen out.
  4. Kontrak tarif lebih defensif: PPA (Power Purchase Agreement, kontrak jual-beli listrik jangka panjang) dengan eskalasi membuat pendapatan PGEO lebih “naik rutin/terukur”; POWR lebih terpapar kompetisi/risiko pelanggan industri (meski memang sangat stabil).

Kinerja PGEO 2023 vs 2025 (dan Q1 2026)

PGEO IPO tanggal 24 Februari 2023 dengan harga Rp875, hari ini harganya lebih rendah daripada saat IPO. Bagaimana dengan kinerjanya?
PGEO IPO tanggal 24 Februari 2023 dengan harga Rp875, hari ini harganya lebih rendah daripada saat IPO. Bagaimana dengan kinerjanya?
image

Perbandingan Segmen Q1 2025 vs Q1 2026

image
image
💡

Lumut Balai adalah faktor penentu. Dari kenaikan revenue +15.048 (ribu USD), sekitar 70% datang dari segmen ini saja (10.515 → 21.042, hampir 2x). Empat segmen lainnya gabungan cuma menyumbang 30%.

Kalau Lumut Balai dikeluarin, growth PGEO cuma +4,5% YoY (90.992 → 95.513), bukan +14,8%, lebih mencerminkan pertumbuhan “organik” aset mature seperti Kamojang, Ulubelu, Lahendong, dan Karaha yang umumnya naik single-digit dari eskalasi tarif kontrak.

Rencana Ekspansi Kapasitas PGEO

image

Kalau PGEO mau ada “booster” revenue, kita tinggal perhatikan bagian rencana ekspansi ini. Tanpa ekspansi? Pertumbuhan akan cenderung low single digit sekitar 4% per tahun

Sebagai kesimpulan: PGEO bisnisnya sangat mudah dipahami, GPM OPM NPM sangat tinggi dan sangat stabil tapi di sisi lain pertumbuhannya juga sangat terbatas (kalau organik)

Valuasi PGEO di harga Rp845

image
image

Menariknya, PGEO juga ikut terkoreksi seiring penurunan berjamaah di BEI. Ini menciptakan peluang pada perusahaan yang sangat stabil seperti PGEO untuk kembali naik ke harga “wajar”-nya.

💡

Berapa harga wajarnya?

Buat gue, cara paling gampang buat menilai perusahaan “stabil” seperti ini adalah dengan melihat rerata PE dan PBV-nya.

Rerata PE 3 tahun terakhir 20,49x, saat ini 11,95x
Rerata PE 3 tahun terakhir 20,49x, saat ini 11,95x
Rerata PBV 3 tahun terakhir 1,54x, saat ini 1x
Rerata PBV 3 tahun terakhir 1,54x, saat ini 1x
image

Gue bisa anggap PE “wajar” untuk PGEO ada di 15x, dan PBV mungkin di 1,3x.

  • Kalau EPS PGEO FY 2026 kisaran Rp70, maka dengan PER 15x harga wajar = Rp1.050/lembar.
  • Kalau Book Value Per Share PGEO FY 2026 kisaran Rp850, maka dengan PBV 1,3 harga wajar = Rp1.105 per lembar.